KOLOM

/>

Selasa, 26 Juni 2012

Paparan Pilu Sang Ayahanda, Misteri Dibalik Hilangnya Abdul Haviz di Gunung Marapi

Mujur sepanjang hari, malang sekejap mata, begitulah ungkapan yang menera keluarga pasangan Edy Syahmian St. Mahmud dan Ratmas Anis warga Banto Darano, Sanjai Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Kota Bukittinggi saat ini. Hari Selasa tanggal 19 Juni 2012 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi seorang Edy Syahmian St. Mahmud, ayah tersayang dari Abdul Haviz salah seorang remaja yang hilang entah kemana disaat melakukan pendakian Gunung Marapi.

Dalam wawancara khusus Edy Syahmian St. Mahmud dengan reporter Agam Media Center pada Selasa (26/6) berbagai sekelumit tentang Abdul Haviz diurai satu demi satu. Bermula dari keberangkatan yang sangat aneh di rasakan oleh Edy Syahmian, biasanya kemanapun Haviz pergi, dia selalu menyalami  dan mencium tangan orang tuanya, namun disaat ia akan melakukan pendakian Gunung Marapi kali ini, kebiasaan serupa tidak dilakukannya.

Menurut penuturan Edy Syahmian yang lebih akrab di panggil ustad itu, Haviz pergi meninggalkan rumah semenjak hari Selasa (19/6) bersama tiga orang temannya, masing-masing Fauzan ( 18 tahun ), Alfian ( 16 tahun) dan Abdul Haviz ( 19 tahun ) itu sendiri.

Setelah melewati Simpang Paniang-paniang menuju Pandan Tinggi Jorong Lasi Tuo Nagari Lasi Kecamatan Canduang, Agam, ketiga remaja tanggung itu menompangkan parkir kendaraan sepeda motornya pada penduduk setempat. Namun baru beberapa langkah yang terlangkahkan, tiba-tiba ada seorang warga yang melarang untuk melakukan pendakian melewati jalur ini.

Mendengar teguran warga tersebut, Fauzan ciut nyalinya dan menyarankan pada kawannya Alfian dan Haviz untuk mengurungkan niatnya melakukan pendakian. Namun Afian dan Haviz tidak merasa gentar dengan larangan warga setempat melanjutkan pendakian, sementara Fauzan kembali pulang ke rumah sambil mengendarai sepeda motor yang urung diparkir pada salah satu rumah warga tersebut.

Sewaktu dalam mengadakan perjalanan mendaki Gunung Marapi, Abdul Haviz terus melakukan komunikasi dengan keluarga, baik orang tua maupun kakak kandung Izzatillah melalui telphon seluler. Namun bertepatan pada hari Rabu malam (20/6) pukul 19.00 WIB ada sebuah pesan singkat dari Haviz melalui hendphone kakaknya Izzatillah yang mengatakan dia bersama temannya tersesat dan kalau keesokkan harinya tiada kabar lagi, tolong dicari mereka berdua.

Membaca SMS tersebut hati kedua orang tua sudah gundah gulana, kegalauan semua keluarga tidak dapat terbendung lagi. Rasa penasaran untuk mendapatkan pesan singkat dari Haviz selalu menyelimuti keluarga Haviz. Pada hari Kamis merupakan penantian yang panjang bagi keluarga Haviz, setelah dicoba-coba menghubungi ke handphone Haviz, namun tidak aktif lagi. Rasa kegelisahan itu berujung sampai Jum’at pagi, memang tidak ada satupun pesan singkat yang kami terima lagi dari Haviz.

Karena kami takut terjadi apa-apa sama Haviz dan Alfian, kami memberanikan diri melaporkan kejadian ini pada kantor camat Canduang. Pada Jum’at malam (22/6) berbagai komponen organisasi kemanusiaan, seperti dari Basarnas Sumatera Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ), baik dari Agam, Bukittinggi, Padang Panjang dan Payakumbuh termasuk PMI Agam, organisasi radio amatir RAPI, Mapala Unand, STAIN Bukittinggi, Polsek IV Angkat Candung, KSB Lasi, pemuda Banto Darano Sanjai serta organisasi lainnya.

 Setelah mengadakan rapat penyusunan strategi serta mendengarkan penuturan dari Fauzan, teman Haviz yang batal berangkat, Tim langsung pada tengah malam itu sekitar pukul 23.30 WIB bergerak untuk mencari dua orang remaja tanggung tersebut melalui jalur Kacawali jorong Labuang Nagari Canduang Koto Laweh dengan kekuatan 34 orang personil yang langsung dikomandoi Kepala BPBD Agam Bambang Warsito. Setelah melakukan pencarian selama lebih kurang 5 jam, tim tersebut kembali ke posko dengan hasil nihil.

Keesokkan harinya pada hari Sabtu siang (23/6) pukul 11.00 WIB pencarian kembali dilanjutkan dengan kekuatan 125 personil yang melakukan penyisiran dari empat titik pendakian, dua titik dari Nagari Canduang Koto Laweh, dan dua tim lagi dari Nagari Lasi. Namun setelah kembali pada sore harinya, ke empat tim tersebut pulang dengan tangan kosong.

Kami, tutur ayahanda Haviz, ikut serta dengan tim untuk melalukan pencarian sambil berdoa pada Allah supaya Allah memberikan jalan kemudahan bagi kami. Kondisi yang sama juga kami hadapi pada hari Minggu, sebanyak 75 orang personil bergerak mencari pada beberapa titik yang diyakini tempat tersesatnya kedua anak tersebut, namun tidak juga membuahkan hasil.

Pada hari Senin kemaren, pencarian terus dilakukan dengan dibantu masyarakat setempat, namun belum juga mendapatkan hasil maksimal. Berbagai langkah dan upaya dilakukan oleh Edy Syamian yang sangat berharap anak kedua dari 7 bersaudara itu bisa pulang. Seluruh saran orang ditampung oleh Edy Syahmian. “Kalau dalam kondisi seperti ini, rumput sekalipun akan saya pegang, kendatipun saya tahu itu tetap tidak akan memberikan arti bagi kami tengah berada ditepi jurang,” ujar Edy.

Ditambahkan oleh Edy Syahmian, keberangkatan Haviz ke Gunung Marapi tidak ada kaitannya dengan mistik, kendatipun diyakini anaknya Abdul Haviz memiliki kelebihan dan keanehan. Sedari kecil ketika Haviz duduk dibangku Sekolah Dasar, Haviz tanpa takut dan gentar mempermainkan berbagai jenis binatang melata seperti ular, begitu juga kebiasaan Haviz yang sering duduk-duduk ditempat yang dianggap angker oleh masyarakat. “Malahan ada sebuah pohon kelapa yang dianggap angker dan ditakuti masyarakat, namun dengan jiwa keberaniannya Haviz berani memanjat pohon tersebut serta memetik buahnya,” tutur Edy Syamian yang didampingi isterinya Ratmas Anis.

Begitu juga dengan Alfian, yang sering kali kami perhatikan ketika menginap dirumah dengan kebiasaannya membakar dupa atau kemeyan pada malam hari. Kami benar-benar bingung apa  sebenarnya yang terjadi dengan kedua anak kami tersebut, imbuh Edy dengan wajah lelahnya.

Namun kami selalu berupaya ikhlas dalam menghadapi masalah ini, beberapa orang para normal dan orang pintar sesuai dengan saran dari teman-teman juga telah kami lakukan. Berbagai versi peramalan disampaikan paranormal tersebut, namun dari sekian orang yang telah ditemui, pada intinya hampir seluruh paranormal memprediksi Abdul Haviz dan Alfian dibawa kabur orang bunian.

Mendengar penuturan demi penuturan dari paranormal tersebut, bagaikan disambar petir tulang ini rasanya, rasa keinginan yang kuat untuk bisa bertemu lagi dengan anak tercinta sudah semakin kecil. Namun, kami seluruh keluarga merasa yakin, Allah masih sayang pada kami, dan Insya Allah anak kami akan kembali pulang dengan kondisi yang baik, ujar Edy dengan lemah.

Memang diakui, AMC yang turut serta mengiringi langkah Edy Syahmian mengitari pencarian dan menelusuri melalui paranormal, banyak ramalan yang bervariasi, namun yang cukup menyenangkan hati, Abdul Haviz dan Alfian masih dinyatakan hidup dan dipelihara oleh orang bunian yang merupakan penghuni gunung Marapi.
Dibalik keprihatinan dan kecemasan, ada juga sekelumit berita yang cukup mengembirakan. Pada hari Sabtu pagi (23/6) pukul 09.00 WIB ada seorang warga petani kedatangan dua orang remaja tanggung ke pondoknya yang berada disekitar pinggang gunung Marapi atau arah menuju keatas Gunung Marapi. Menurut cerita Al Fatah seorang pemuda Banto Darano yang turut serta menyisiri lokasi pencarian ke Gunung Marapi kepada AMC menuturkan, pagi Sabtu tersebut Atut pemilik pondok itu didatangi dua orang remaja tanggung yang memakai sandal jepit, baju kaos oblong hitam dan warna kelabu yang menyandang tas ransel samping,tiba tiba mendatangi pondoknya dan meminta makan dan minum.

” Takajuik awak pak,nan biasonnyo kok ado urang nan datang, jankan dari dakek,dari jauah pun alah manyalak taranak ambo, tapi antah dek baa taranak ambo haniang sajo katiko anak mudo nan baduo ko tibo’ tutur Atut. Keduanya meminta air dan nasi yang dibungkus dengan kantong asoy,Mereka tidak mau makan dengan piring yang ada dipondok. Ketika Atut menunjukkan jalan untuk pulang dari Marapi, keduanya hanya diam dan berkata akan pergi jauh, demikian yang disampaikan Atut. Atut sendiri tidak mengetahui informasi bahwasanya ada dua orang remaja hilang di Marapi saat kedua remaja yang kuat dugaan adalah Hafis dan Alfian tersebut mendatanginya.

Setelah mendengar penuturan dari Atut serta dari cirri-ciri yang disampaikannya, diyakini bahwa kedua remaja tanggung tersebut adalah Abdul Haviz dan Alfian yang sudah melakukan pendakian semenjak Selasa lalu.

Selain itu, pada hari Senin kemaren (25/6) sekitar pukul 17.00 WIB, tim Basarnas yang mengomandoi pencarian juga menemukan ada jejak kaki yang diperkirakan sekitar dua jam yang lalu dilewati dua orang yang berlokasi sekitar di Lakuak Munta. Setelah ditelusuri hingga jejak menghilang, tim hanya menemukan sebuah Goa yang biasa disebut masyarakat sekitar Goa Inyiak Taruko. Pencarian sekitar goa langsung dilakukan tim Basarnas, namun hasilnya juga nihil dan tim kembali ke posko yang berada di kantor camat Canduang dengan tangan hampa.

Hingga hari ini, Selasa (26/6) pukul 16.00 WIB tim belum juga menemukan warga Banto Darano dan Kamang Magek tersebut.

Bupati Agam Indra Catri yang mendatangi posko di kantor Camat Canduang Selasa (26/6) ingin mengetahui perkembangan terakhir tentang dua orang warga yang hilang tersebut, menyatakan rasa prihatinnya yang mendalam. “Kita Pemerintah Kabupaten Agam merasa sangat prihatin atas kejadian ini, semua kekuatan telah kita turunkan secara maksimal, baik melalui BPBD, PMI dan organisasi kemanusiaan lainnya, kendatipun belum membuahkan hasil yang kita harapkan,” ungkap Indra Catri.
Ketika didesak wartawan mengenai batas waktu pencarian, bupati menegaskan, untuk tahap pertama ini kita sesuaikan dengan kesepakatan awal yakni dalam tempo satu minggu atau sampai tanggal 28 Juni 2012, namun apakah nanti akan dilakukan perpanjangan, tentunya akan kita sesuaikan dengan hasil evaluasi dari tim.  Apabila rekomendasi tim harus diperpanjang waktu pencarian, kenapa tidak kita lakukan,” papar Indra Catri dengan serius.

Pada bagian lain Indra Catri juga memberikan apresiasi yang tinggi atas kerjasama, kepeduliaan dan pengorbanan dari seluruh komponen masyarakat serta organisasi kemanusiaan, baik dari provinsi, kabupaten kota maupun kecamatan dan nagari. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas kemurahan hati dan semangat dari rekan-rekan relawan dan wartawan yang tak mengenal waktu, baik siang maupun malam, semoga menjadi amal bagi kita semua dan kedua warga kita dapat ditemukan dalam keadaan yang selamat sesegeramungkin,” harapan Indra Catri mengakhiri. ( AMC ).

Berita

Popular Posts