#
Headlines News :
Home » » Masyarakat Dihadang Kelangkaan Air Bersih

Masyarakat Dihadang Kelangkaan Air Bersih

Written By AGAM MEDIA CENTER on Senin, 27 Maret 2017 | 3/27/2017 07:08:00 PM



Kasra Scorpi
Oleh : Kasra Scorpi 
Setiap tanggal 22 Maret masyarakat dunia memperingati hari air sebagai upaya menggugah dan meningkatkan kesadaran manusia terhadap pentingnya air tawar dalam kehidupan sehari-hari.

Pentingnya air dalam kehidupan merupakan realita yang telah dibuktikan sejarah, manusia purba zaman "antah barantah" menjalani kehidupan pada lokasi-lokasi di pinggir sungai agar mudah mendapatkan air untuk dikonsumsi.

Pusat-pusat kebudayaan tertua di dunia juga berkembang pada kawasan aliran sungai, seperti kebudayaan Mesopotamia pada sungai Euprat dan Tigris, kejayaan Mesir pada sungai Nil, India di lembah sungai Hindus, Cina di sepanjang aliran sungai Hoangho.

Begitupun kerajaan-kerajan tua dan besar di Indonesia berada di pinggir sungai, sebut saja Kutai di tepi sungai Mahakam, Mojopahit pada sekitar Bengawan Solo, Sriwijaya pada sungai Musi, sampai kinipun masih banyak pemukiman berada pada kawasan sungai dengan harapan masyarakatnya mudah mendapatkan air yang kondusif untuk keperluan hidup.

Namun kini masyarakat dunia tengah dihadapkan kepada kondisi air yang semakin memburuk, secara kuantitas kondisi air bagaikan lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, " Musim kemarau tak sbrapa airmu, dimusim hujan air meluap sampai jauh", secara kualitas kandungan air semakin banyak dengan material berbahaya, limbah industri, rumah tangga dan sebagainya.

Di berbagai tempat sering kedengaran warga masyarakat dihadang kelangkaan air bersih untuk minum, cuci, kakus dan keperluan lain, sementara berbagai satwa air mengalami kepunahan dan terancam.

Justru itu, utuk mengingatkan kita semua, hari air tahun 2017 ini mengangkat tema"Wastewater" atau "Air Limbah". Tema yang tepat, apalagi saat ini, 80 persen air limbah rumah tangga, kota, industri dan pertanian di seluruh dunia dibiarkan mengalir kembali ke alam tanpa diolah atau digunakan kembali, dan pada akhirnya mencemari lingkungan dengan segala dampak yang ditimbulkanya.

Pembuangan limbah ke alam terbuka tidak saja merusak kualitas air tapi juga merusak kestabilan besar kecilnya air di permukaan tanah, sehingga sering menimbulkan banjir dan kekeringan akibat saluran air yang tersumbat, seperti yang terjadi di banyak kota.

Sementara itu kebiasaan masyarakat membuang limbah ke alam terbuka secara langsung atau tidak langsung, dengan sengaja atau melalui kegiatan usaha masih tinggi, baik limbah kotoran manusia, kotoran hewan, residu pestisida akibat usaha perikanan, kimia dan sebagainya.

Kondisi demikian merambah sampai ke daerah-daerah kita yang kaya dengan hutan dan sumber daya air, sehingga banyak air sungai, waduk maupun danau yang berada dalam kondisi memprihatinkan.

Sebagai contoh, pada wilayah Sumatra Barat, air danau Maninjau sedang dalam kondisi tercemar parah, "didakwa" terdapat 50 juta kubik limbah berbahaya di danau ini, 95 persen merupakan limbah dari usaha perikanan darat keramba jala apung(KJA).

Sebagai solusi dan tindakan antisipatif bahaya limbah terhadap pencemar air, masyarakat perlu disadarkan akan pentingnya prilaku baik dalam pembuangan limbah melalui upaya edukasi, regulasi, termasuk tindakan represif terhadap pelanggar.

Yang tak kalah penting meningkatkan dan memperbanyak penggunaan teknologi Instalasi pengolahan air limbah(wastewater treatment plant).

Kata Guy Ryder, Ketua UN-Water dan Direktur Jenderal International Labour Organization, "Kita tidak seharusnya melihat air limbah sebagai sesuatu yang bisa diabaikan atau dibuang. Sebaliknya, kita harus melihatnya sebagai sumber daya berharga yang dapat memberikan manfaat pada manusia dan lingkungan"
Tentu saja dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi***

Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center