#
Headlines News :
Home » » Peringatan Hari Air Dunia XXV dipusatkan di Maninjau

Peringatan Hari Air Dunia XXV dipusatkan di Maninjau

Written By Admin on Selasa, 21 Maret 2017 | 3/21/2017 06:49:00 PM

Kabupaten Agam memperoleh kehormatan dan perhatian dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat di bidang konservasi air melalui dipilihnya Muko-Muko Maninjau sebagai tempat peringatan Hari Air Dunia  ke XXV tahun 2017 besok Rabu (22/3)

Hari Air Dunia merupakan perayaan dengan tujuan menarik perhatian publik akan pentingnya pengelolaan air bersih  dan pentingnya air bagi kehidupan serta sebagai usaha edukasi untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan air bersih yang berkelanjutan. Hari Air Dunia diperingati setiap tanggal 22 Maret setiap tahunnya, yang di umumkan pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil.


Dalam peringatan hari air, selalu ada tema setiap tahunnya dimana pada tahun 2016 lalu tema yang dipilih adalah Air dan Lapangan Pekerjaan atau Water and Jobs. Untuk tahun 2017, tema yang dipilih adalah Air Limbah yaitu berdasarkan Keputusan Sekretaris Direktorat Jenderal Sumber Daya Air selaku Ketua Umum Tim Pelaksana Peringatan Hari Air Dunia XXI Nomor 02/KPTS/AS/2017 tentang Pembentukan Tim Teknis Penyelenggaraan Peringatan Hari Air Dunia ke XXV Tahun 2017.

Sumber daya air selain merupakan sumber daya alam juga merupakan komponen ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan akan air cenderung semakin meningkat dari waktu ke waktu, baik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti untuk air minum, air bersih, dan sanitasi maupun sebagai sumber daya yang diperlukan bagi pembangunan ekonomi seperti pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik dan pariwisata. Air yang digunakan untuk berbagai kebutuhan dan keperluan hingga saat ini dan untuk kurun waktu mendatang masih mengandalkan pada sumber air permukaan, khususnya air Danau dan Sungai.

Secara kualitas, ketersediaan sumber daya air sungai dan danau cenderung menurun karena adanya pencemaran yang berasal dari limbah cair maupun padat dan banyaknya sedimentasi yang terjadi akibat adanya longsoran material.

Dalam rangka memperingati Hari Air Dunia XXV tahun 2017, Balai Wilayah Sungai Sumatra V sebagai instansi penanggung jawab, memilih lokasi Muko2 Maninjau sebagai tempat acara dengan harapan dapat mengedukasi dan memotivasi masyarakat agar dapat lebih peduli terhadap lingkungannya khususnya Danau Maninjau dan agar dapat lebih meningkatkan koordinasi dan sinergitas antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten dalam upaya penyelamatan Danau Maninjau.

Tak ada kata terlambat dalam penyelamatan lingkungan, tak ada kata selesai untuk upaya pelestarian alam dan tak ada kata sulit untuk mencintai alam.

Kabupaten Agam, saat ini memang menghadapi masalah sumber daya air, yaitu tercemarnya Danau Maninjau. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang  berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut. Danau Maninjau merupakan sebuah kaldera dari letusan besar gunung api yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km3 material piroklastik. Kaldera tersebut terbentuk karena letusan gunung api strato komposit yang berkembang di zona tektonik sistem Sesar Besar Sumatera yang bernama gunung Sitinjau (menurut legenda setempat), hal ini dapat terlihat dari bentuk bukit sekeliling danau yang menyerupai seperti dinding. Kaldera Maninjau (34,5 km x 12 km) ditempati oleh sebuah danau yang berukuran 8 km x 16,5 km (132 km2). Dinding kaldera Maninjau mempunyai 459 m dari permukaan danau yang mempunyai kedalaman mencapai 157 m (Verbeek, 1883 dalam Pribadi, A. dkk., 2007).

"Saat ini air danau berwarna kehijauan akibat blooming algae, kata Wakil Bupati Agam  yang juga ketua penyelamatan Danau Maninjau di Lubuk Basung beberapa waktu yang lalu. Tingginya kandungan Nitrogen dan Phospor, mengakibatkan Danau Maninjau saat ini berada pada level eutropik Penyebab utama adalah tingginya kandungan  organik di dasar danau akibat sedimentasi dari sisa pakan ikan. Berdasarkan penelitian Balai Wilayah Sungai Sumatera V, saat ini terdapat lebih dari 50 juta kubik sedimen di dasar danau. Apabila tidak diatasi secepatnya, maka perairan danau akan menjadi hypereutrofik atau sangat subur dan akan mengakibatkan semakin punahnya biota endemis.  Di samping endapan sisa pakan, sedimen di dasar danau juga disebabkan oleh material akibat kondisi alamiah perbukitan Maninjau yang memiliki kemiringan lereng yang cukup tajam, rusaknya kawasan resapan air dan perubahan sistem hidrologi danau akibat  PLTA Maninjau.


Acara peringatan hari air dunia ini, yang dipusatkan pada daerah Muko-Muko Maninjau besok, direncanakan dihadiri oleh Direktur Jenderal SDA Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan yang diwakili oleh Direktur Irigasi dan Rawa, Bapak Ir. Mochammad Mazid, ST, SP; Sekretaris POKJA Revitalisasi GN-KPA Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, Dr. Ir. Mochammad Amron, M.Sc;Sekretaris Sekretariat POKJA Revitalisasi GN-KPA Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, Ir. P. Victor Sidabutar; Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; Kementerian Agraria dan Tata Ruang; Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Kementerian Dalam Negeri, Gubernur Sumatera Barat; Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Sumatera Barat; Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V dan Kepala BP-DAS-HL Agam Kuantan; Kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Propinsi Sumatera Barat; Anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Agam; Kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Kabupaten Agam; Manajer PLN Sektor Bukittinggi; Kepala UPT Alih Teknologi Penyehatan Danau Maninjau; Camat Tanjung Raya serta Tokoh Masyarakat. *)
Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center