#
Headlines News :
Home » , , , , , » Agam Kembangkan Burung Hantu Sebagai Predator Tikus

Agam Kembangkan Burung Hantu Sebagai Predator Tikus

Written By AGAM MEDIA CENTER on Senin, 10 April 2017 | 4/10/2017 10:22:00 AM


Oleh:Kasra Scorpi

Bagi petani kabupaten Agam tikus merupakan hama menjengkelkan, apalagi pada daerah endemik tikus di wilayah Agam barat, terutama sekitar Danau Maninjau, karena hewan pengerat itu hampir setiap tahun menyerang padi, sementara upaya pemberantasan dengan peracunan dan perburuan sering tidak mempan, sehingga sejak sepuluh tahun terakhir dikembangkan predator tikus alami yakni burung hantu jenis tyto alba.

Untuk itu sejak pada masa bupati Agam Aristo Munandar telah dilepas ratusan ekor tyto alba ke alam lepas dan telah dibuatkan beberapa buah rumah tempat tinggal dan tempat berkembang biaknya di kitaran Danau Maninjau, terutama pada nagari Koto Kaciak.

Upaya pengembangbiakan burung hantu itu Menurut Koordinator Pengamat Hama Kabupaten Agam, Asmardi, terus berlanjut, sekarang Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat turut mendukung dengan memberikan bantuan dua unit rumah hurung hantu yang segera dipasang pada lahan milik Kelompok Tani Barek Sapikua dan Kelompok Tani Banda Kapeh, Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya.

Tujuan pengadaan rumah burung agar predator tikus itu menetap di lokasi sekitar rumahnya, lalu untuk memudahkan melakukan pelestarian, pengawasan dan penjagaan dari gangguan tangan-tangan jahil yang menggunakan senapan angin.

Untuk mengundang burung hantu tinggal di rumah bantuan itu dilakukan pemancingan dengan beberapa ekor tikus, penempatan rumahnya pada lokasi yang banyak pepohonan.

Sementara nagari Koto Kaciak sendiri telah memiliki Perna tentang pelestarian burung hantu yang pelaksanaanya melibatkan masyarakat luas dan kelompok tani.

Sedangkan Pemkab Agam turut menganggarkan dana pada APBD-nya untuk pengadaan burung hantu, selain itu juga akan memberikan pelatihan pemeliharaan burung hantu kepada masyarakat.

Saat ini populasi burung hantu pada kawasan edemik tikus Agam Barat meliputi kecamatan Tanjung Raya, Lubuk Basung, Ampek Nagari dan Palembayan diperkirakan telah mencapai ribuan ekor, populasi itu masih perlu ditingkatkan untuk mencapai keseimbangan dengan alam lingkunganya.

Daya serang burung hantu terhadap tikus cukup tinggi karena setiap satu ekor membutuhkan makanan setara 2 – 3 ekor tikus per hari, jangkauan terbangnya mencapai 12 km.

Indra burung cukup peka terhadap calon mangsanya, matanya yang menghadap lurus ke depan memungkinkan mengukur jarak dengan tepat, paruh kuat dan tajam serta kaki yang cekatan mampu mencengkeram dengan erat, terbang tanpa berisik merupakan modal dasar baginya dalam berburu di gelap malam.

Selain pemangsa tikus, burung hantu yang oleh sebagian masyarakat disebut dengan "kuak" juga memangsa serangga, kodok dan hama tani lainya.

Namun yang menjadi masalah dalam pelestarian satwa predator itu, masih rendahnya kepedulian dan kesadarakan masyarakat terhadap arti penting keseimbangan alam serta fungsi rantai makanan dalam sebuah kawasan, sehingga masih banyak orang merasa tanpa bersalah menangkapi dan membunuh burung hantu tanpa tujuan.

Bagai kawasan wisata seperti daerah sekitar Danau Maninjau, keberadaan burung hantu bukan saja sebagai predator hama tanaman, juga dapat dijadikan sebagai daya tarik bagi wisatawan. Siapa tahu nantinya Maninjau terkenal dengan wisata khas burung hantu?***
Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center