#
Headlines News :
Home » » Forum Nagari Hebat Wujudkan Swasembada Pangan Berbasis Potensi Lokal

Forum Nagari Hebat Wujudkan Swasembada Pangan Berbasis Potensi Lokal

Written By andri padrianto on Sabtu, 08 April 2017 | 4/08/2017 01:47:00 PM

Bupati Agam, H. Indra Catri Dt Malako Nan Putiah mendambakan Kabupaten Agam menjadi lumbung pangan Sumbar. Ia hasil pertanian Rang Agam merajai pasar. Semua itu dicurahkannya melalui Forum Nagari Hebat, di hadapan pemangku nagari, pejabat Bank Nagari, dan PT Semen Padang serta akademisi.

Untuk mencapai hal tersebut pola tanam tidak bisa empat kali dalam setahun, Kabupaten Agam memang khas, terkadang regulasi harus tunduk pada tradisi. Misalnya, praktik 'Mangganang' yang sudah berlangsung puluhan tahun. Jeda waktu antar panen dan menyemai kembali, diselingi dengan penebaran benih ikan selama dua bulan.

Demikian paparan pendahuluan yang disampaikan Bupati Agam saat menjadi pembicara dalam Forum Nagari Hebat di aula lantai IV Bank Nagari, Padang, Jumat (7/4). Menurut Indra Catri, di sebagian besar wilayahnya terdapat kearifan lokal tersendiri, terutama dalam hal bercocok tanam.

"Bagi kami, sektor pertanian sudah menjadi pondasi peradaban. Segala jenis industri dan perdagangan bergantung pada pertanian," ujarnya.

Awalnya, produksi pertanian di Agam sudah cukup untuk makanan pokok masyarakat. "Namun, kami menargetkan jangkauan hasil panen ini tidak hanya menguasai pasar lokal. Buah jengkol, produksi beras dan buah-buahan, diarahkan berkualitas unggul. Petani di Sungaipua sudah mulai melakukan packing dan menjadi penyuplai aneka sayuran. Ini yang penting untuk dikembangkan," ujarnya pula.

Menjaawab pertanyaan pemandu forum Nashrian Bahzein, mengenai dukungan APBD Agam untuk sektor pertanian, Indra Catri menyebut urutan ketiga. Di samping alokasi pendidikan dan pembangunan infrastruktur.

"Kami ingin petani Agam dapat bersaing di tingkat lebih luas. Kami temui di lapangan masih ada warga yang tidak makan daging dan minum susu serta makan ikan. Karena itu, sambil berlari menggenjot mutu hasil produksi, kami juga harus menyelamatkan kelompok yang mengalami nasib seperti ini. Perhatian kami terbelah antara mengejar impor dan menyelamatkan warga lokal," ujarnya menjelaskan.
Indra Catri tidak lupa mengapresiasi masukan yang diterimanya dari para stakeholder Pemprov Sumbar, untuk meyakinkannya meningkatkan jam kerja masyarakat Agam. Alhasil, pendapatan perkapita sebesar Rp 13 juta pada tahun 2011, telah naik menjadi Rp 23 juta di tahun 2016. 

"Pendapatan perkapita Agam naik dua kali lipat lebih. Lahan yang tadinya nganggur mulai tergarap. Jam kerja masyarakat terus meningkat dari waktu ke waktu sesuai kebutuhan," ujarnya lagi.

Panelis lainnya, Ilmaizar, ketua forum Wali Nagari Limapuluh Kota menjabarkan UU Nomor 6 tahun 2015, tentang Desa awalnya memang terbayang indah. Kucuran dana satu nagari satu miliar, bisa menjadi nikmat, bisa pula berujung petaka.

"Jika disorot kembali ke belakang, nagari sudah bagus. Kendala di nagari, Dana Desa baru cair akhir tahun akibat opini ketidak mampuan. Opini publik seakan mengecilkan Wali Nagari dan perangkatnya. Hal itu melahirkan birokrasi yang makin rumit," ujarnya.

Ilmaizar menekankan, tidak ada masalah di lapangan. Tantangan yang dihadapi justru terletak pada regulasi yang tak bersinergi dari pusat ke daerah. Perda tentang Pemerintah Nagari belum terwujud.

"Masalah kedua, bidang politik. Masa reses para anggota dewan ke dapilnya masing-masing menimbulkan urusan baru. Warga kini disibukkan dengan suhu politik, permintaan surat keterangan miskin terus meningkat, maka data kemiskinan meroket tajam. Di sisi lain, masih dijumpai kepala dinas yang tebang pilih dalam menyalurkan bantuan," ujarnya pula.

Direktur Utama Bank Nagari, Dedi Ihsan menyambut baik aspirasi yang telah dipaparkan anggota forum ini. Menurutnya, di bidang kredit usaha mikro, Bank Nagari siap menjadi penasehat keuangan nagari, dan bersedia menjadi pendamping perbankan setiap nagari.

"Tahap awal, Bank Nagari akan menyediakan pembiayaan KUR disertai subsidi yang dicover oleh asuransi daerah. Kami ingin dunia perekonomian di nagari-nagari menjadi naik level," uajrnya.

Bank Nagari, lanjut Dedi, juga siap memberikan pelatihan entrepenurship dan technopreneurship kepada aparatur pemerintah nagari.

"Sudah kami coba di Nagari Sumanik. Bahkan, 25 nagari di Tanahdatar sudah didampingi. Pemberian subsidi ini hanya langkah awal sebagai pemancing saja, lama-lama kami akan mendorong tiap nagari masuk ke ranah komersial," ujarnya pula.

Direktur Kredit Bank Nagari, Hendri menambahkan, Cabang Pembantu (Capem) Bank Nagari Padangluar sudah lama bergerak ke sektor pertanian. Dia menilai, tatanan kelembagaan sangat penting. Hal ini belum terjalin antar daerah. 

"Bank Nagari merupakan bagian alat pemerintah pendukung perekonomian. Kewajiban pemerintahan daerah tentunya mewujudkan berkesinambungan program ini, sebagai langkah konkritnya," ujarnya.

Program terbaru Bank Nagari, sambung Hendri, pihaknya bekerja sama dengan Pemprov Sumbar melatih tenaga kredit sebagai capasity building sebanyak 56 orang pada angkatan kedua.

"Program KUR pertanian dan perikanan tidak bisa dialihkan ke sektor lain. Ini wujud komitmen Bank Nagari sebagai BUMD yang merakyat. Kami maunya peningkatan skala ekonomi bukan skala bantuan. Maksudnya, jika di Agam ada sapi dua ekor di tiap KK, kalau skala ekonomi itu minimal 8 ekor. Jika sapi sudah lebih dari 6 ekor, maka dunia banking bisa masuk," ujarnya menjelaskan.

Hendri juga menyigi pentingnya pengembangan sektor pertanian menuju kawasan agrowisata. Yang harus dibantu, antara lain pengadaan alat produksi dan packaging.

"Pertanian sudah prospect, namun perlu pagar berupa regulasi. Kelemahan selama ini kita maunya instans. Pemkab harus menyediakan lanskap wilayah, tata ruang harus jelas. Bupati harus menyiapkan Perda RTRW. Kalau agrowisata tidak dipagari bisa kacau, parkir liar dan asal bangun akan terjadi. Pengunjung akan terganggu oleh tukang palak," ujarnya pula.

Kepala Departemen Komunikasi dan Sarana Umum (KSUPT Semen PadangIskandar Z Lubis, yang turut menjadi pembicara pada forum tersebut menuturkan, pihaknya sudah lama bergelut mendukung perekonomian masyarakat Sumbar. Khususnya melalui Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL), PTSP sering memberi bantuan berupa program kemitraan.




"Di Agam, terdapat 63 mitra binaan PTSP aktif. Sebanyak 38 mitra diantaranya bergerak di bidang perindustrian, hanya satu mitra binaan yang konsen di bidang pertanian. Untuk itu, kami akan datang ke Agam, mengaji program kemitraan yang cocok," tuturnya. (Tam/AMC)



Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center