#
Headlines News :
Home » » Melirik Tradisi 'Mangganang' di Nagari Kototangah

Melirik Tradisi 'Mangganang' di Nagari Kototangah

Written By Admin on Jumat, 07 April 2017 | 4/07/2017 10:51:00 PM

Untung Tiga Kali Lipat, Sawah Makin Subur

Tradisi mangganang memiliki poin penting dari sekian banyak upaya masyarakat Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang dalam mencari penghidupan. Mangganang, memiliki sejarah kearifan lokal dan keunikan tersendiri. Masyarakat setempat percaya, setiap benih ikan yang disemai akan memberikan hasil panen yang cukup untuk persiapan menanam periode selanjutnya.

Rifa Yanas -- Agam
MANGGANANG jika ditelusuri dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata genang, bergenang, menggenangi, tergenang, penggenangan dan kegenangan. Artinya kemudian dikaitkan dengan mengaliri sawah dengan air. Sementara, bagi warga yang menjadi pelaku penggenangan, prosesnya dimulai dari memotong batang padi yang sudah dipanen. Setelah itu sawah dialiri air secara merata. Tahap terakhir, sawah yang tergenang air, diisi dengan benih ikan.
Dari penelusuran, benih ikan yang ditebar terdiri dari beragam ukuran dan cara memperolehnya. Ada yang menyebutnya 'Ikan Baratuih' ada pula 'Ikan Babelek'. Pada intinya, ikan yang disemai diperoleh dari para pembudidaya bibit ikan. Ada yang diantarkan langsung ke sawah petani, ada juga yang dijemput oleh petani ke lokasi pembibitan.
Meminjam istilah Ikan Baratuih, dulu harga per-ekor ikannya berkisar antara Rp 300 hingga Rp 500. Sejalan dengan kenaikan harga bibit ikan, saat ini satu ekor ikan dipatok Rp 500 hingga Rp 1.000.
"Jika sepetak sawah dimasukkan ikan 2.000 ekor, maka modal yang diperlukan sekitar 1-2 juta rupiah. Setelah dua bulan, ikan kemudian dipanen, maka kami menyebutnya ikan Babelek alias ikan dijual dengan takaran Belek. Satu Belek setara 15 hingga 19 kilo," ujar Sutan Pamenan, seorang pemilik dua petak sawah yang dijumpai Padang Ekspres saat meninjau air di sawahnya, Rabu (5/4).
Dua petak sawah ini, lanjutnya, isinya hanya sekitar 200 hingga 400 ekor ikan. Ikan yang dibeli dengan istilah Ikan Baratuih besarnya sekitar 3 jari tangan orang dewasa.
"Kalau modal saya 400 ekor, atau sekitar 400 ribu rupiah, saya bisa panen mencapai 5 belek. Anggaplah saat ini sekilo ikan sekitar 30.000 rupiah. Maka, satu belek setara 400 ribu hingga 600 ribu rupiah. Untung bersihnya sekitar 1 juta hingga 1,5 juta rupiah," bebernya.
Pengakuan tak jauh berbeda disampaikan Syafrizal, pemilik sawah di Jorong Kotomalintang. Menurutnya, sawah dengan bibit 2.000 ekor modalnya 2 juta rupiah. Nantinya, dapat dipanen dengan takaran 9 belek. Artinya, 9 belek dikali Rp 400.000 sama dengan Rp 3.600.000.
"Selama dua bulan berlangsungnya proses mangganang, pemilik sawah beruntung minimal Rp.1.600.000, maksimal Rp 2.600.000," jelasnya.
Mak Kari, 54, petani lainnya menyederhanakan, jika yang dibeli adalah Ikan Babelek dengan modal Rp 400.000, dua bulan kemudian dapat dipanen menjadi tiga belek. "Jika modalnya satu belek, dipanen menjadi tiga belek. Artinya dapat untung dua belek," ringkasnya.
Menurut Mak Kari, petani yang masih marak melakukan tradisi mangganang diantaranya warga Jorong Kotomalintang, Jorong Aua, Jorong Paraklaweh, Jorong Baringin dan Jorong Tampuniak.
"Periode panen kali ini, saya beserta pemilik sawah di sekitar sini memilih tidak mangganang karena Bangau dan Berang-berang sedang marak. Jika saya hanya mangganang sendiri, tidak diikuti kawan petani lain, maka saya akan kewalahan. Ikan akan habis dimakan pemangsa," ujarnya sembari mengayunkan parang membersihkan pematang sawah.
Wali Nagari Kototangah, Mashuri menuturkan tradisi menggenangi sawah dengan air lalu diisi dengan benih ikan sudah didapatinya secara turun-temurun.
"Dari ambo ketek-ketek sudah seperti itu. Hikmah yang didapat, tanah lunak karena digenangi air maka mudah ditanami. Mangganang juga menambah kesuburan padi karena secara otomatis hama tikus tidak ada lagi. Feses ikan juga menjadi pupuk alami," paparnya.
Menurut Mashuri, praktik Mangganang juga disebut dengan istilah Kabek Padi jo Daun. Keuntungan penjualan ikan bisa dipakai membayar bajak sawah, upah tanam dan penambah beli pupuk.
"Kalau di daerah lain, biasanya hanya dua kali panen padi, di sini terhitung tiga kali dengan ikan. Sambil menunggu benih padi tumbuh, ikan yang dipelihara tanpa diberi makan itu akan menjadi modal untuk pola tanam berikutnya," terang Mashuri.
Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang merupakan salah satu nagari terluas di Kabupaten Agam. Zonasi wilayah yang terdiri dari 28 jorong, jumlah penduduk mencapai 16.799 jiwa dengan 4.719 KK. Saat ini, Nagari Kototangah sedang berjuang mengajukan pemekaran menjadi 5 nagari.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Nagari Kototangah mendapat curah hujan 1.771 mm pertahun. Luas sawah mencapai 1.344 hektare, 1.294 diantaranya sawah irigasi dan sisanya 50 hektare sawah tadah hujan. Produksi padi tercatat terus meningkat tiap tahun.
"Di Kototangah pada tahun 2015 produksi padi mencapai 21.552 ton, sedangkan pada tahun 2016 menjadi 22.494 ton," beber Kepala Dinas Pertanian, Afdhal, Kamis (6/4).
Dihubungi terpisah, Sekretaris Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan, Zuzarmen menyatakan
program Nagari Mandiri Pangan (NMP) di Kabupaten Agam terdiri dari empat nagari. Meliputi; Nagari Kototangah di Tilatangkamang, Nagari Kototinggi di Kecamatan Baso, Nagari sungaitanang di Kecamatan Banuhampu, dan Nagari Duokoto di Kecamatan Tanjungraya.
"Kelompok tani yang ada di empat nagari ini diberikan bantuan penguatan pembelian bibit sebanyak Rp 25 juta tiap nagari. Kelompok nagari yang mengadakan pembibitan, sementara sumber dananya dibekap dari APBN," tutur Zuzarmen.

Selain itu, sambungnya, juga ada program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang menaungi lima kelompok tani di lima Nagari berbeda.
"Kelompok tani ini juga melakukan pengadaan kebun bibit secara berkelompok. Dana bantuannya sebesar Rp 15 juta per nagari. Masing-masing nagari dipilih satu kelompok. Dana ditransfer ke kelompok dari Dinas Pangan Provinsi. Lalu, kelompok tani penerima membuat perjanjian dan melaporkan penggunaan dananya. Masing-masing nagari ada petugas pendamping yang membantu memfasilitasi," imbuhnya.
Untuk menjamin keamanan petani dalam menjual hasil panen, kata Zuzarmen, di tiap kecamatan sudah ada Lembaga Distribusi Pangan Masyarakat (LDPM).
"Lembaga ini berperan membeli gabah dari para petani, diolah lalu dijual lagi. Tujuannya, untuk menghindari petani dari calo dan tengkulak. Lembaga ini, karena sifatnya sosial, mereka tidak mengambil untung terlalu besar," pungkasnya.(*)

MENJALA IKAN: Dua pemuda sedang menjala ikan di aliran irigasi yang
mengaliri sawah warga di Jorong Aua, Nagari Kototangah, Kecamatan
Tilatangkamang, Rabu (5/4). Penjala ikan ini berharap mendapatkan ikan
yang nyasar ke aliran irigasi sebagai berkah dari sisa panen
mangganang yang telah usai dan kembali ditanami padi. 

Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center