#
Headlines News :
Home » » Melirik Usaha Kerupuk Ubi Kamang di Nagari Kototangah

Melirik Usaha Kerupuk Ubi Kamang di Nagari Kototangah

Written By Admin on Senin, 10 April 2017 | 4/10/2017 08:31:00 PM

Bantu Penghasilan Suami, Laba Sehari Rp 60 ribu


Kendati tidak memiliki lahan sendiri untuk menanam ubi, kegigihan keluarga kecil Irawati, 42, pantang surut. Warga Jorong Ladangtibarau, Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang ini tetap produktif menjaga tradisi. Bersama 20-an ibu rumahtangga lainnya, Irawati membuat kerupuk kamang dengan wadah koperasi simpan pinjam. Bagaimana kiprahnya?


Rifa Yanas -- Agam

CUACA sore itu mendung. Deretan perbukitan tertutup awan gelap. Sudah tiga hari hujan mengguyur Jorong Ladangtibarau, Nagari Kototangah, Kecamatan Tilatangkamang. Akibatnya, produksi kerupuk yang dilakoni ibu-ibu setempat terganggu. Tidak banyak yang menjemurkan samia di halaman rumah sore itu, Senin (10/4).

Samia merupakan anyaman dari bambu yang dibuat persegi panjang dengan ukuran 2 x 1 meter. Gunanya untuk menjemur adonan kerupuk yang sudah dicetak bulat tipis. Seukuran diameter bibir gelas cetakannya.

Satu buah samia, dapat menjemur sebanyak 110 buah kerupuk mentah. Irawati, memiliki samia sebanyak 30 buah. Jika sehari dia dapat menjemur keseluruhan samia, maka ada sekitar 3.000 kerupuk mentah yang siap dipasarkan. 

"Sekarung ubi dengan modal Rp 200 ribu dapat dibagi menjadi tiga ember, alias tiga kali adonan. Satu ember dapat menghasilkan 30 samia," jelas Irawati.

Kerupuk yang sudah kering, lanjutnya, akan diikat dan dikemas dengan jumlah yang bervariasi.

"Kalau satu ikat isi 80 buah kerupuk maka harganya Rp 3.700. Jika isi 100 buah kerupuk harga jualnya Rp 4.500. Rata-rata satu karung ubi mentah dapat terjual sekitar Rp 420.000 jika telah menjadi kerupuk kamang," beber ibu dua anak ini.

Irawati mengaku kerupuk ubi buatannya itu dijual ke Pasar Aurkuning dan sejumlah pelanggan yang sudah melakukan pesanan sebelumnya.

"Diluar biaya bahan baku, ada lagi biaya produksi sekitar Rp 30.000 untuk sekarung ubi, mulai ongkos gilingan, bumbu dan transportasi. Untung bersih sekitar Rp 200 ribu selama tiga hari atau sekitar Rp 50 ribu sehari jika cuaca mendung," ungkapnya.

Pendapatan segitu, diakuinya memang masih jauh panggang dari api. Belum sesuai harapan. Namun sisi positifnya, pekerjaan itu dapat dilakukannya sebagai sambilan mengasuh anak dan meringankan beban suami.

"Saya baru dua tahun lalu memulai usaha ini. Kami terkendala sulitnya pasokan bahan baku. Kami tidak memiliki lahan pertanian untuk ditanami ubi kayu. Selain itu, kami berharap ada bantuan berupa mesin penggilingan yang dapat dipakai secara kelompok maupun individu setiap anggota koperasi," pungkasnya berharap.

Wali Nagari Kototangah, Mashuri menyebut tradisi pembuatan kerupuk kamang di wilayahnya itu sudah berlangsung sejak lama.

"Membuat kerupuk kamang di Kototangah dulunya berukuran lebar. Karena dinilai lebih mudah dan dapat diproduksi lebih cepat, maka lebih banyak yang beralih ke ukuran yang mini," katanya.

Menurutnya, di Nagari Kototangah, pembuat kerupuk itu umumnya dilakoni oleh kalangan ibu-ibu. Tujuannya semata untuk menambah penghasilan suami, minimal mereka berpenghasilan sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 70 ribu sehari.

"Untuk mengakomodir para pembuat kerupuk, kami sudah mendirikan sebuah koperasi berbadan hukum lengkap dengan ad/art sendiri. Sebanyak 20 anggota sudah bergabung dan rutin menggelar pertemuan bulanan. Tiap anggota dikenakan simpanan pokok dan simpanan wajib. Koperasi ini sudah melayani simpan pinjam untuk seluruh anggota," ujar Mashuri yang juga telah memaparkan kearifan lokal di wilayahnya pada Forum Nagari Hebat yang digagas Padang Ekspres Group, Jumat lalu (7/4).

Dihubungi terpisah, Pakar Pemberdayaan Masyarakat, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas, Dr Indraddin menilai perlunya masyarakat setempat untuk terus didorong memelihara tradisi kerupuk kamang yang sudah menjadi ciri khas daerah itu. Selain itu, dia menyarankan agar stakeholder terkait dapat membina para pembuat kerupuk agar mengatur irama produksi menyesuaikan siklus kehidupan masyarakat, sehingga tradisi ini bisa dijadikan selingan.

"Jangan sampai pekerjaan ini menjadi membosankan dan lambat laun ditinggalkan. Pemerintah harus mengambil peran dan melakukan pendampingan," tutur Wakil Dekan II FISIP Unand ini. 

Alumni SMAN 3 Bukittinggi ini menyebutkan pengaturan ritme dan siklus produksi misalnya; dengan selingan pergantian bahan baku, penambahan variasi rasa dan bumbu, motif cetakan kerupuk dan masa jeda berhenti produksi untuk menghindari jatuhnya harga akibat pasokan di pasar yang teramat besar.

"Bagi yang menekuni usaha ini perlu dilatih membuat kemasan yang menarik. Sehingga produksinya tidak hanya menjangkau pasar lokal. Dengan label dan brand yang unik, kerupuk ini bisa menjadi oleh-oleh bagi pelancong ke Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi. Atau bahkan bisa berskala impor," jelas tenaga pengajar Sosiologi ini.

Indraddin mengamati, kurangnya pasokan bahan baku ubi patut dicarikan jalan keluar sedini mungkin. Terutama dengan ciri khas Kabupaten Agam sebagai sentra pertanian. Kekurangan pasokan ubi akan menjadi ironi yang menggelitik pemerintah setempat.

"Karena sudah ada koperasinya, maka tidak ada salahnya pemerintah mendorong pemanfaatan lahan tidur atau tanah ulayat. Sistemnya, bisa sebagai sewa lahan dan bagi hasil atas nama koperasi. Jika tidak segera dilakukan, maka tradisi kerupuk Kamang tidak menutup kemungkinan akan hilang," pungkasnya.(*)
Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center