#
Headlines News :
Home » » Nagari Hebat, Mengenal Lebih Dekat Geliat Perekonomian di Nagari Panampuang

Nagari Hebat, Mengenal Lebih Dekat Geliat Perekonomian di Nagari Panampuang

Written By Admin on Jumat, 07 April 2017 | 4/07/2017 11:10:00 PM

Satu Rumah Dua Ekor Sapi, IRT Garap UMKM

Umumnya, masyarakat Nagari Panampuang Kecamatan Ampekangkek, belum mengenal sistem deposito maupun tabungan berjangka di dunia perbankan. Mereka tidak pula menyimpan uang dalam bentuk emas, apalagi dolar. Dari dulu hingga kini, mereka memilih beternak sapi untuk tabungan hari tua yang juga dapat dijual untuk keperluan mendesak.

Rifa Yanas -- Agam
HAMPIR dipastikan, tidak ada yang menjadi pengangguran di kampung kecil ini. Kepala keluarga beternak sapi, berladang dan ke sawah. Sebagian lainnya menjajal bisnis furniture, baik itu sebagai pengrajin tetap maupun paruh waktu.
Tidak hanya itu, di Nagari Panampuang, rata-rata ibu rumah tangga (IRT) juga berjuang membantu penghasilan keluarga dengan menekuni berbagai usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), seperti menyulam dan membuat kue. Seluruh elemen benar-benar bergairah dalam mencari penghidupan.
Nagari Panampuang memiliki luas 680 hektare dengan jumlah penduduk 2.088 Kepala Keluarga (KK) atau berkisar dengan 8.005 jiwa. Berdasarkan pembagian wilayah, Nagari Panampuang terdiri dari tujuh jorong; Jorong Bonjo, Jorong Sungaibaringin, Jorong Lurah, Jorong Lundang, Jorong Suraulauik, Jorong Suraulabuah dan Jorong Kubu.
Penelusuran Padang Ekspres akhir Maret lalu, jumlah ternak sapi yang ada di Nagari Panampuang mencapai 1.300 ekor, dan yang paling banyak terdapat di Jorong Lundang sekitar 761 ekor lebih. Jorong Lundang, sebagai salah satu kawasan yang cukup menonjol dalam geliat perekonomian, memiliki luas 103 hektare dengan penduduk 360 KK, meliputi 1.324 jiwa.
Effendi Rasyid, 61, tokoh masyarakat Jorong Lundang menyebut, tahun 1970-an, segenap masyarakat hanya beternak sapi untuk dijadikan penarik bajak di sawah. Lalu, pada tahun 1982, dimulai inseminasi buatan (IB). Perlahan keberadaan jenis sapi lokal mulai tergusur setelah didatangkannya sapi Baraman, sapi Sarolais dan sapi Limosin. Karena dinilai tidak cocok dengan selera warga, beberapa jenis sapi impor ini kurang diminati. Musim pun berganti.
"Lalu, pada tahun 1990-an mulai berkembang jenis sapi simental dan bertahan hingga hari ini," ujar sosok ayah dengan lima anak dan tujuh cucu ini.
Saat ini, lanjut Effendi, dapat diistilahkan hampir tiap pematang sawah sepanjang dua meter di setiap sisi, ditumbuhi rumput. Ladang yang tadinya gersang dan tak tergarap, bahkan juga ada yang ditanami rumput. Semuanya hanya untuk pasokan makanan sapi-sapi warga setempat.
"Dari hasil penjualan sapi, hampir tiap rumah sudah ada sarjananya," tutur pria yang akrab disapa Pak Pendi ini.
Aneka rumput yang ditanami warga, sebutnya, juga beragam. Mulai dari rumput gajah, king grass, dan rumput Taiwan. Yang disebut terakhir ini, dibawa dari Padang Mengatas, Payakumbuh sebanyak 20 batang dan akhirnya berkembang biak.
"Untuk sampel pakan sapi, kami saling berbagi. Bagi yang memiliki lahan dan ingin menanam rumput, cukup dengan berbagi beberapa batang, nanti akan tersebar sendiri," imbuhnya.
Peternak sapi lainnya, Ferri Sonnefil, 37 menambahkan, olahan limbah pertanian seperti batang jagung, jerami, dan kulit ubi jalar, termasuk kulit ubi yang dikupas untuk produksi sanjai dan umbi-umbian lainnya dapat dimanfaatkan sebagai suplemen penambah gizi. Katanya, untuk mempercepat penggemukan, pakan sapi juga diselingi dari umpam talas yang diiris selebar telapak tangan lalu direbus.
Pada tahun 2002, berdirilah sebuah wadah Kelompok Ternak Tunas Muda yang awalnya beranggotakan 21 orang. Seiring berjalan waktu, saat ini ada 19 anggota aktif yang masih berkomitmen sejak 15 tahun silam untuk bernaung di bawah kelompok ternak itu.
"Dulu pembentukan kelompok ternak ini diinisiasi oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumbar, ada 21 kelompok yang serentak dibentuk di Nagari Panampuang. Yang bertahan ada 5 kelompok. Bagi kami, salah satu manfaatnya untuk mempercepat informasi dan ajang berkumpul. Karena masing-masing anggota punya sapi, banyak pengetahuan baru yang bisa dibagi,"
Tahun 2012, Kelompok Ternak Tunas Muda ini mendapat bantuan 44 ekor sapi. Saat itu, harga seekor Rp 10 juta. Belum ada kandang untuk menampung sapi sebanyak itu. "Kami lalu iuran untuk membangun dua kandang dan satu kantor. Alhamdulillah sampai hari ini masih dapat dimanfaatkan. Bagi anggota yang mengembalakan sapi bantuan itu, ditetapkan sistem bagi hasil. 80 persen bagi pengembala, 20 persen bagi kelompok," jelas Ferri Sonnefil yang juga wakil ketua Kelompok Ternak Tunas Muda ini.
Dijelaskannya, bantuan sapi yang berjumlah 44 ekor itu, terus berkembang dan nilai asetnya tetap dieprtahankan. Saat ini modal seekor sapi simental setara Rp.12 juta, maka jumlah sapi bantuan yang dulunya hanya bermodal Rp 10 juta seekor, tentu menyusut menjadi 37 ekor. "Penyesuaian aset namanya. Ketetapan ini ditempuh melalui rapat kelompok. Kalau nanti harga seekor naik menjadi Rp 15 juta maka jumlahnya akan menyusut menjadi sekitar 30 ekor," bebernya.
Bagi Ferri, beternak sapi sifatnya hanya sambilan, tidak menghabiskan hari. Hal itu ditambah lagi dengan keberadaan sapi yang tidak bisa lagi digembalakan, hampir tiap KK punya wilayah kekuasaan rumput masing-masing.
"Tiap rumah rata-rata memiliki dua ekor sapi. Ada yang fokus di sini saja, ada yang dobel. Mencari rumput dapat dilakukan di pagi hari atau sore hari saja. Di sela waktu tersebut, mereka biasanya bertani, dan mengukir perabot," pungkas ayah tiga anak ini.
Kesungguhan para peternak sapi ini menggemukkan hewan piaraannya tidak boleh dipandang sebelah mata. Buktinya, dalam sejumlah kontes sapi simental Tingkat Sumatera Barat, sapi milik petani Panampuang sempat beberapa kali meraih gelar juara. Mulai dari kategori kontes induk jawi, jawi gadis, jawi jantan dan beberapa kategori lainnya. Umur dua tahun sapi mereka sudah ada yang berbobot seberat 800 kilogram.
Wali Nagari Panampuang, Zulhendra menuturkan keberadaan Kelompok Ternak Tunas Muda juga sangat memotivasi warga. Selain itu, bagi warga yang ingin menjual ternaknya, tidak lagi harus berurusan dengan para cukong ternak.
"Ada rekening kelompok dengan saldo Rp 200 juta untuk standby membeli sapi warga yang terdesak butuh dana. Kalau menjual ke pasar ternak, kadang pemilik sapi masih sayang dan masih ingin melihat sapinya. Untuk itu, akan dibeli dan ditampung di kelompok. Nanti boleh dibeli lagi oleh sang pemilik," jelasnya.
Selain di Jorong Lundang, kata Zulhendra, sejumlah peternak sapi juga tersebar di Jorong Bonjo, Jorong Sungaibaringin dan Jorong Lurah. Sisanya, di Jorong Kubu dan Jorong Suraulabuah mayoritas masyarakat hidup dari sawah tadah hujan dan bertani palawija seperti jagung, ubi jalar, kacangtanah, cabe dan jeruk.
"Untuk mendukung Program Pengembangan Kawasan Pangan di Kabupaten Agam, Nagari Panampuang melalui jorong Lundang termasuk daerah pengembangan pangan dan holtikultura. Sehingga, kelompok tani yang ada di jorong Lundang setiap tahun selalu menerima bantuan benih jagung, benih kacang tanah, bibit cabe dan bibit jeruk," bebernya.

Industri UMKM dan Keterlibatan IRT
Usaha rumah tangga mikro berskala kecil dan menengah saat ini sudah tumbuh dan menggeliat di Nagari Panampuang. Ini dibuktikan banyaknya produk-produk yang dihasilkan yang berasal dari Nagari Panampuang, termasuk Jorong Lundang sendiri. Adapun usaha rumah tangga yang ada di Jorong Lundang Nagari Panampuang diantaranya; perabot, sulaman dan kerajinan serta makanan olahan. Pelakunya, didominasi oleh warga pribumi termasuk kalangan ibu rumah tangga (IRT).
"Ada sekitar 14 buah industri perabot yang sudah berdiri dan menghasilkan produk-produk rumah tangga seperti ukiran, lemari, tempat tidur, pintu, kursi ruang tamu, serta mobiler kantor dan sekolah. Industri perabot ini merupakan usaha anak nagari dan melibatkan tenaga kerja yang berasal dari anak nagari sendiri," ujar Zulhendra.
Umumnya, lanjut Wali Nagari, minimal satu perabot mempekerjakan 10 orang tenaga kerja bahkan lebih. Jika dikalkulasikan dengan 11 gudang perabotan saja, maka didapat sekitar 100 orang lebih tenaga kerja yang terlibat.
"Ini membuktikan salah satu kearifan lokal masyarakat berupa usaha perabot ini dapat mengurangi pengangguran," imbuhnya.
Dari segi usaha makanan olahan, dengan memanfaatkan hasil pangan lokal seperti pengolahan ubi jalar, jagung, dan beras pulut telah berkembang usaha kue sapik. Kue khas urang awak ini sudah dipasarkan secara luas, bahkan sering mengikuti pameran dan promosi ke luar daerah.
Risnayanti, 43, warga Jorong Bonjo, Nagari Panampuang merupakan salah satu IRT yang sudah lama menjadi pembuat kue sapik. Ibu lima anak ini sudah 8 tahun menggeluti bisnis ini. Sehari, dia bisa mencetak sebanyak 1.500 hingga 1.600 keping kue sapik.
"Saya mulai bekerja dari pukul 7.30 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Upah yang diperoleh tiap 100 keping kue yaitu Rp 4.000. Dalam sehari saya berpenghasilan 50 ribu sampai 60 ribu rupiah. Minimal dalam sepekan kami gajian Rp 300 ribu," ujarnya saat ditemui Padang Ekspres di sela-sela pembuatan kue sapik di outlet Assadori.
Sulaman, juga menjadi usaha rumah tangga yang sangat berperan membantu perekonomian keluarga di jorong Lundang Nagari Panampuang. Sektor kerajinan yang sudah ada sekitar tahun 1932 ini masih digemari oleh kaum ibu dan remaja putri. Salah satu kearifan lokal yang berbeda dengan daerah lainnya, umumnya setiap rumah di kawasan ini memiliki alat untuk menjahit yang disebut dengan “pamedangan” atau ram besar.
"Bahan kain yang akan disulam, diapit menggunakan ram besar ini. Jarum jahitnya berukuran setengah dari jarum jahit pada umumnya. Motif sulaman yang dihasilkan beragam, seperti terawang filex, kasiak, suji caia dan sulam bayang," ujar Erlina, 61, ibu paruh baya yang mengaku sudah melakoni sulaman tradisional itu sejak bangku sekolah dasar (SD).
Sehari-hari, warga jorong Lundang yang memakai hijab dan kacamata berlensa lebar itu ditemani oleh suaminya yang juga mahir menyulam. Desembri Sutan Bagindo, 65, suaminya yang bekerja sebagai tukang pangkas di halaman rumah, akan membantunya menyulam jika pelanggan sepi.
"Kain yang disulam ini merupakan bahan mentah untuk membuat baju, jilbab, dan mukena. Dari selembar kain, hasil upah jahitan berkisar 50 ribu hingga 70 ribu rupiah. Tergantung motif dan panjang kain. Prosesnya dapat diselesaikan dua atau tiga hari," ujar Erlina diamini suaminya.(*)
SAPI HEBAT: Peternak sapi di Jorong Lundang, Nagari Panampuang memberi makan sapi, Kamis kemarin (30/3). Ternak sapi yang dikelola secara berkelompak ini selain berfungsi sebagai tabungan, juga telah mampu memutar roda perekonomian warga setempat. Suatu kearifan lokal, sedikitnya setiap KK memiliki dua ekor sapi di belakang rumahnya.
Share this post :
 
Support : Creating Website | Agam Media Center | Agam Media Center
Copyright © 2011. AMC - All Rights Reserved
Template Created by Agam Media Center Published by Agam Media Center
Proudly powered by Agam Media Center